Tentang Cerita Semalam

Hai, happy long week-end gals.

Um, nggak semuanya sih ngerasain libur panjang. Ada yang harus ngurus closing penjualan, ada yang harus buka toko, ada juga yang masih harus nganter orang-kesana-kesini. Yah, apapun itu disyukuri saja.

Well, Tentang Cerita Semalam…

#teambogor

Kak Iman-Kak Teguh-Aku

Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Dilan

Sore, gengs.

Tentang Dilan. Kenapa gue memilih judul di atas? Yah, karena semata ingin menulisnya. Menulis nama itu. D-I-L-A-N.

Buat lo yang udah baca novel atau bahkan udah liat film-nya, boleh bantu jawab gimana perasan lo setelah nonton itu? Sumber dari teman gue, Wiwit, pas dia nonton Dilan 90% studio isinya orang pacaran. Oke, gue nggak mau bilang pacaran deh, berpasangan! Karena yang datang berdua cowok, belum tentu pacaran, okay? Baca lebih lanjut

T.E.M.A.N

Saat berbicara tentang teman, apa yang tercetus dibenakmu? Saudara? Kerabat? Sahabat? Atau hanya te-man? Orang yang kau temui entah dimana lanjut berkenalan sambil menyebutkan nama? Atau… bisa kau sebut seseorang yang membantu membuatmu merasa ada?

Buatku, teman itu ya teman saja. Urusan kita senang atau sedih, hak diri kita sendiri dong. Urusan kau suka merah atau dia suka biru, itu pilhanmu. Tidak perlu untuk disamakan, bukan? Atau… entahlah.

Jika kau memintaku untuk berteman, aku terima. Hei, tidak salah bukan ketika kau memiliki seseorang lain di hidupmu? Urusan kau akan mempengaruhi hiduonya, pilihanmu.

Bagaimana jika kau memintaku berteman sedang kau menjauh? Aku akan mempertanyakan itu. Hei, bung, Mbak, Dek, Kak, yakin kau ingin berteman denganku? Lantas kenapa kau malah pergi? Pergi begitu saja.

Aku seringkali merasa seperti itu. Ketika seorang mengajak berteman lantas ia pergi, aku akan dengan berpikir keras “Apa yang salah denganku?” Secara tidak langsung itu akan memengaruhi pola piker kita, bukan?

Bukan aku menjauhi tanpa sebab, jika kau sendiri pun enggan berdiam denganku tanpa alasan

Kau pergi, aku pun juga akan pergi, secara berdiam.

Kau dating, anggap saja aku masih menjadi “rumah” untuk kau pulang.

Ah, pembicaraan ini entah berujung kemana. Atau menyindir siapa.

The girl behind Me

Welcome back to my blog. Let me chit chat something ummm.. yeah, memorized me abouy my chilhood. Isn’t rite grammar here?

Well, pernah nggak sih kalian mengekori sesuatu, seseorang, atau apapun itu untuk menghilangkan rasa takut? Pasti pernah dong ya.

Kemarin malam, sekitar pukul 20.00 WIB, aku berjalan dari jembatan kecil Cilodong menuju rumahku, di Kampung Pulo Cilangkap. Karena malaa memutar jalan kampung (kurang lebih 20 – 25 menit lah), aku memutuskan potong jalan. Lewat gang depan Masjid Abror. Suasana malam itu nggak sepi-sepi amat kok. Masih ada beberapa anak berlatih taekwondo bersama pelatih (sori, aku nggak tau nama pelatih olahraga asal Korea itu apa) di halaman masjid. Yah, sebagaimana aku yang lebih banyak cuek, memasang tampang jutek nan judes, jalan lurus atau sesekali menunduk daripada tengok kanan kiri membuatku berjalan ringan.

Um, jalannya biasa aja sih. Jalan gitu aja. Sampai ada motor di belakangku pun aku diamkan. Mau nyusul, mendahului, ya silahkan. Mau berhenti, silahkan. Sebodo amat. Karena daripada ngedumel soal motor di belakangku lebih baik fokus ke jalan mana yang harus aku lalui.

Mungkin jalan itu bukan jalan pertama yang pernah aku lewati, saking lamanya kali ya, jadi lupa. Oke, jadi karena aku gatau harus gimana tentang ingatan jalan itu kata hati pun dipenuhi.

Lagi, motor di belakangku berhasil ku susul. Di atasnya ada 3 manusia, perempuan semua. Aku berasumsi mereka adalah siswa yang baru saja pulang ngaji? Bisa saja begitu, anak terkecil yang ku lihat ia mengenakan kerudung dan menggendong tas punggung.

Oh, dari pembicarannya mereka sedang mencari alamat. Entah, kurang jelas aku menangkap pembicaraan mereka. Yah, anggap saja begitu.

Tiba di depan gang yang agak sempit, mereka berhenti. Aku mendahuluinya sampai langkah itu terdengar. Siapa ya?

Langkah kaki itu mendekatiku dan ku pikir ia akan mendahului. Rupanya anak perempuan kecil yang memakai kerudung itu menabrak sedikit lengan kiri. Ku tengok wajahnya.

“Mau duluan?” tanyaku.

Dia menggeleng. Ah, tubuh kecil itu mengingatkanku pada Damar, adik sepupuku.

“Mau bareng?” tanyaku lagi. Kali ini dia mengangguk.

Ah, mungkin dia takut dan mencari teman pulang. Pikirku.

Memang jalanan yang kami lalui cukup gelap karena kurangnya penerangan lampu jalan.

Kami berjalan dalam diam sampai di mulut gang.

“Kamu kemana? Kanan apa kiri?” tanyaku lagi.

“Kiri. Mbak?” jawabnya lalu menanyaiku.

“Nggak tau nih, ntar deh liat jalan dulu.”

Wo-o. Rupanya gang itu dekat dengan rumah Mas Sawal, lima menut dari rumah.

“Berani nggak?”

“Berani kok. Udah keliatan itu.”

“Bener?”

“Iya.”

“Yaudah yok dianterin sekalian.”

Aku mengantarnya sampai depan rumah. Yah, memang hanya berjarak 2 rumah dari mulut gang itu.

“Makasih ya.” ujarnya. Menutup pertemuan kami.

Aku meringis. Ah rasa-rasanya dejavu gini. Ya, aku pernah mengalaminya beberapa hari lalu. Jumat malam, tepatnya. Perjalanan menuju rumah Simbah Kidul dari Sendangsari.

Sleepless Night

Hai, selamat siang 🙂

Masih #StayStrong untuk menikmati hidup. Dan saya harap Kakang Mas Taemin juga begitu. Aamiin.

Oke, jujur nih saya masih kepo soal para member SHINee lainnya gimana. Khawatir gitu, singkatnya. Apalagi setelah ada berita kalau Taemin Oppa dropped out from KBS Music Festival 2017. Huhuhu.. lagi-lagi saya telat tau fakta itu. Seminggu setelahnya.

Well, karena masih kepo akhirnya saya tiba di salah satu artikel pengantar tidur yang baik dari SHINee. Salah satunya: Sleepless Night.

Image result for sleepless night shinee

Baca lebih lanjut